AKAFARMA dan AKFAR PIM Tebar Penghargaan Mahasiswa berprestasi saat Wisuda -    Tingkatkan Profesionalitas Tenaga Teknis Kefarmasian lewat Uji Kompetensi

Renstra

RENCANA STRATEGIS

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG

TAHUN 2017 – 2021

A. Pendahuluan

Rencana Strategis ini merupakan rencana pengembangan Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang (AKFAR PIM) periode 2017-2021. Renstra ini disusun berlandaskan misi awal pendiri Yayasan, yaitu “Mendorong peningkatan intelegensia masyarakat serta suatu usaha ke arah tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila”, yang merupakan kristalisasi cita-cita dan komitmen bersama tentang kondisi ideal masa depan yang ingin dicapai. Renstra ini juga merupakan penyempurnaan renstra sebelumnya. Selain untuk menjawab tantangan dan perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal, juga menyesuaikan perubahan mendasar yang terjadi di internal. Pada Renstra sebelumnya struktur organisasi AKFAR PIM berada di bawah Pengurus Pendidikan. Sedangkan kondisi saat ini, AKFAR PIM di bawah bidang Pendidikan. Bidang pendidikan Pengurus Yayasan Putera Indonesia Malang, meliputi Institusi SMK Kimia Industri, Akademi Analis Farmasi dan Makanan, Akademi Farmasi, Biro Adminitrasi Akademik Kemahasiswan/Kesiswaan (BAAK), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Biro Perpustakaan, UPT Laboratorium, UPT Pembelajaran Komputer dan Bahasa.

Renstra ini harus menjadi komitmen bersama dan menjadi rujukan bagi Direktur dan pejabat struktural lainnya dalam menyusun rencana-rencana strategis dan program kerjanya, dan bukan sekedar sebuah dokumen, apalagi sekedar untuk memenuhi kepentingan sangat praktis, semacam kelengkapan administratif untuk akreditasi. Rencana Strategis ini disusun berdasarkan kesadaran, kehendak, kebutuhan bersama untuk dijadikan sebuah pedoman bagi penyelenggaraan dan pengembangan AKFAR PIM agar setiap keputusan yang diambil dan setiap langkah yang ditempuh oleh setiap unit kerja merupakan bagian dari upaya untuk menuju tujuan akhir bersama, yaitu meraih masa depan yang unggul dengan perilaku kehidupan yang saling menyejahterakan.

Membangun sebuah lembaga tidak terlepas dari pengaruh luar yang mungkin lebih dahsyat dibandingkan permasalahan-permasalahan intern. Dampak persaingan di eraglobalisasi masih terus dirasakan, berikut dengan diberlakukannya pada tahun 2016 Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). MEA memiliki pola mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade antara negara-negara anggota ASEAN. Penyatuan ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemiskinan dan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat ASEAN. Integrasi ini diharapkan akan membangun perekonomian ASEAN serta mengarahkan ASEAN sebagai tulang punggung perekonomian Asia. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia masih tergolong rendah, menempati urutan 121 dari 187 negara yang dikomparasikan oleh lembaga dibawah PBB, UNDP (United Nations Development Programme). Tantangan bagi Indonesia adalah penyiapan SDM yang siap dengan segala tantangan dengan Negara tetangga secara regional dan internasional. Pendidikan akan menjawab semua ini. Pendidikan merupakan pondasi yang sangat kuat guna mempersiapkan SDM yang berkualitas dengan kompetensi hard skill dan soft skill. Pengelolaan pendidikan menjadi sangat penting, dimana pertumbuhan dan perkembangan lembaga dipengaruhi oleh kemampuan pimpinan dalam menciptakan strategi yang mumpuni untuk memenangkan persaingan tanpa meninggalkan esensi dari pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu AKFAR PIM menginduk kepada kebijakan Yayasan Putera Indonesia Malang adalah untuk menciptakan kesadaran pada setiap individu di PIM bahwa tujuan lembaga yang akan dicapai yaitu Tercapainya Masa Depan AKFAR PIM Yang Kokoh dan Lebih Sejahtera membentuk lulusan yang cerdas, berprestasi, unggul dan kompetitif. Tujuan ini dapat tercapai tergantung bagaimana kita secara kreatif menciptakan produk-produk unggulan yang dapat menjawab kebutuhan dan keinginan peserta didik, calon peserta didik, dan stakeholder serta mampu menyampaikannya ke masyarakat dengan baik. Kebijakan ini kiranya sangat relevan dengan Tagline Yayasan Putera Indonesia Malang : ”Touch Your Future” dan Byline AKFAR PIM: “Kampus Farmasinya Malang”. Dengan tagline dan byline ini dimaksudkan semua personil mau pun peserta didik di lingkungan YPI-M untuk menyadari, bahwa masa depan adalah sebuah perantauan dan perjuangan yang tidak pasti, berat serta penuh tantangan. Masa depan bukanlah sesuatu yang taken for granted. Ia harus dirancang dan diupayakan dengan kesungguhan hati. Hal ini menjadi tanggung jawab kita sendiri. Belajar mempersiapkan diri untuk terus eksis di masa depan merupakan aktivitas belajar yang never ending.

B. Visi, Misi dan Tujuan Lembaga

Visi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang adalah:

” Menjadi institusi pendidikan vokasi kefarmasian bertaraf nasional yang mampu menghasilkan lulusan unggul berkarakter pharmapreneur di bidang farmasi komunitas pada tahun 2021”

Misi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang adalah:

  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran diploma tiga farmasi yang berpusat kepada peserta didik dengan pendekatan pembelajaran yang efektif berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk memperkuat posisi AKFAR PIM pada tingkat nasional
  2. Mengembangkan karakter pharmapreneur peserta didik untuk menghasilkan lulusan yang mampu tetap mengembangkan diri dan bersaing di dunia kerja di tingkat nasional
  3. Menyelenggarakan kegiatan penelitian secara kreatif dan inovatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang kefarmasian dengan unggulan farmasi komunitas yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
  4. Menyelenggarakan kegiatan pemenuhan tanggungjawab sosial secara optimal berupa pelayanan atau pengabdian kepada masyarakat
  5. Menjalin hubungan kerjasama dengan perguruan tinggi farmasi dan non-farmasi, pemerintah dan swasta serta dunia kerja secara nasional
  6. Menerapkan sistem manajemen mutu perguruan tinggi secara berkelanjutan dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tujuan Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang adalah:

  1. Menghasilkan pendidikan dan pembelajaran diploma tiga farmasi yang berpusat kepada peserta didik dengan pendekatan pembelajaran yang efektif berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk memperkuat posisi AKFAR PIM pada tingkat nasional
  2. Menghasilkan lulusan yang berkarakter pharmapreneur yang mampu tetap mengembangkan diri dan bersaing di dunia kerja di tingkat nasional
  3. Menghasilkan karya penelitian yang kreatif dan inovatif hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kefarmasian dengan unggulan farmasi komunitas sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
  4. Menghasilkan karya hasil pengabdian kepada masyarakat di bidang kefarmasian dengan unggulan farmasi komunitas
  5. Menghasilkan kerjasama dengan perguruan tinggi farmasi dan non-farmasi, pemerintah dan swasta serta dunia kerja secara nasional
  6. Menghasilkan lembaga pendidikan dengan tata kelola yang baik, akuntabel dan transparan yang menjamin peningkatan kualitas kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara berkelanjutan

C. Nilai – Nilai Pendukung

Nilai-Nilai Pendukung yang dibutuhkan dan harus tercipta di dalam lingkungan kerja YPIM meliputi :

  1. Sikap Profesionalisme

Sikap Profesionalisme dimaksud di sini adalah komitmen terhadap nilai-nilai dasar perilaku yang dapat mewujudkan profesionalisme. Sikap profesionalisme secara personal otomatis menjadi keharusan bagi orang-orang dalam lingkungan Yayasan Putera Indonesia Malang. Karena, hanya dengan personil-personil yang profesional-lah masa depan YPIM, terutama personil AKFAR PIM dapat terus maju dan berkembang. Seorang dikatakan memiliki sikap profesional bila memiliki perilaku jujur, adil dan senantiasa mampu mengembangkan diri dan profesi yang ditekuninya. Seorang professional mencintai apa yang dikerjakannya, dan karena rasa cinta yang tinggi terhadap pekerjaannya itulah dengan mudah meraih kesuksesan dan reputasi yang baik dalam bidang pekerjaannya. Seorang professional tidak akan pernah mengeluh, bahkan akan dengan senang hati memberikan kontribusi yang lebih dalam bekerja. Ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Jika ia berbuat salah, selalu berusaha untuk memperbaiki diri dengan terus belajar untuk semakin menguasai bidang pekerjaannya. Dengan demikian sikap profesionalisme ini sudah pasti akan mendorong setiap personil untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Seorang yang memiliki mental profesional itu pasti memiliki dedikasi yang amat besar terhadap pekerjaannya dan tidak akan pernah puas sampai ia menghasilkan yang terbaik yang bisa ia usahakan. Sikap mental ini sangat dibutuhkan bagi lembaga- lembaga di bawah naungan Yayasan Putera Indonesia Malang dalam menghadapi

kompetitor-kompetitornya. Dengan sikap professional inilah peningkatan kinerja personal maupun organisasi dapat dicapai, sehingga lembaga-lembaga di bawah naungan Yayasan Putera Indonesia Malang, seperti institusi pendidikan AKFAR PIM mampu memenangkan persaingannya dan memiliki masa depan yang kokoh.

  1. Memiliki Mindset Problem Solver

Yayasan Putera Indonesia Malang masih dalam kondisi yang membutuhkan perbaikan di sana sini, dari segi Menejemen maupun SDM nya. Dibutuhkan solusi- solusi positif dan produktif untuk menyelesaikan persoalan-persolan yang kerap muncul ke permukaan maupun yang tidak. Seorang yang mampu memberikan solusi positif dan produktif dalam setiap persoalan adalah yang memiliki Mindset Problem Solver.

Hampir semua masalah yang terjadi akan mudah terpecahkan di tangan seseorang yang memiliki mindset problem solver. Mereka ini memiliki mindset yang baik di dalam melihat masalah dan memiliki frame yang memadai untuk memecahkan masalah. Ini bisa terjadi bilamana masing-masing pihak terus melatih mematangkan dan mendewasakan pola berpikirnya. Hanya mereka yang memiliki tradisi berpikir kuatlah yang mampu menjadi problem solver.

Lawan dari problem solver adalah trouble maker. Di tangan trouble maker, hampir setiap masalah yang ditangani akan bertambah ruwet dan bertambah besar eskalasinya. Bahkan, sebuah keadaan yang sebetulnya tidak memiliki potensi untuk menjadi masalah bisa menjadi ledakan masalah besar jika si trouble maker ini terlibat dalam urusan tersebut. Trouble maker ini memiliki potensi merongrong kekuatan organisasi dari dalam dan cenderung memecah belah antar personil sehingga memporak-porandakan teamwork yang telah terbangun.

Mindset problem solver ini harus segera dibudayakan di lingkungan Yayasan Putera Indonesia Malang. Mindset problem solver ini menjadi kewajiban bagi setiap pimpinan di lembaga-lembaga di bawah naungan Yayasan Putera Indonesia Malang, mulai dari pimpinan puncak sampai dengan pimpinan di level pelaksana teknis kegiatan. Sehingga setiap permasalahan yang muncul di lini manapun akan segera dapat diatasi dengan solusi-solusi yang terbaik.

  1. Disiplin

Keberhasilan sebuah perusahaan atau organisasi untuk meningkatkan kinerjanya, supaya tetap eksis di arena kompetisi yang begitu ketat, tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sarana dan sistem yang dimiliki, tetapi terutama ditentukan oleh komitmen dan kompetensi SDM-nya. Unsur SDM harus mendapat perhatian serius dari pihak manajemen mengingat di saat sekarang, dan terutama di masa-masa mendatang, iklim kompetisi akan semakin mengganas. Hal ini memaksa setiap perusahaan harus dapat bekerja dengan lebih efisien, efektif dan produktif.

Efektivitas, efisiensi dan produktivitas dari organisasi akan bisa dicapai hanya jika karyawan dari organisasi juga berperilaku demikian. Oleh karena itu, organisasi saat ini mau tidak mau harus memberi fokus bagi perilaku tersebut supaya dimiliki oleh seluruh karyawan melalui pembinaan kompetensi dan komitmen mereka.

Salah satu indikator komitmen adalah sikap disiplin. Sikap disiplin merupakan bentuk komitmen karyawan untuk melaksanakan tugas pekerjaannya dengan kesungguhan hati dan tanggung-jawab. Robbins (1982) mendefiniskan disiplin kerja sebagai suatu sikap dan perilaku yang dilakukan secara sukarela dengan penuh kesadaran dan kesediaan mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau atasan, baik tertulis maupun tidak tertulis.

Perilaku karyawan yang tidak disiplin, menurut Gibson dan Donnely (1989:188) dapat diekspresikan dalam beberapa hal, yaitu: keabsenan, kelambanan, meninggalkan tempat kerja, mengulangi prestasi buruk, mencuri, berkelahi, mengancam pimpinan, melanggar aturan dan kebijaksanaan keselamatan kerja, pembangkangan perintah, melakukan pelanggaran secara tidak wajar, memperlambat pekerjaan, menolak kerja lembur, menolak kerja sama dengan rekan, memiliki dan menggunakan obat-obatan ketika bekerja, merusak peralatan, menggunakan bahasa atau kata-kata kotor, dan pemogokan secara illegal.

Jika kita amati, di YPIM termasuk organisasi yang SDM-nya kurang memiliki disiplin kerja yang baik. Hal ini bisa dilihat dari tingginya jumlah absen dan seringnya pekerjaan-pekerjaan tidak bisa diselesaikan tepat waktu. Dan ini dianggap sudah biasa. Bukti lain, ketika jumlah jam kerja minimal dan finger print diberlakukan, beberapa karyawan merasa keberatan dengan berbagai macam dalih. Mengingat YPIM akan melakukan pembenahan di beberapa bidang, terutama dalam sisi manajemen, untuk mempersiapkan diri dalam era kompetisi yang makin ketat nanti, maka sikap disiplin ini harus menjadi perhatian para pimpinan.

Ada beberapa faktor yang biasa dilakukan untuk menumbuhkan perilaku disiplin kerja, yakni: meningkatkan pemahaman akan tujuan organisasi, teladan pimpinan, sistem insentif yang sehat, keadilan, pengawasan melekat, sanksi-hukuman, ketegasan, dan hubungan kemanusiaan. Program-program yang dipilih untuk menumbuhkan sikap disiplin tersebut bergantung pada situasi dan keadaan bidang dan unit kerja masing-masing.

  1. Teamwork

Budaya bekerja yang baik merupakan nilai lain yang juga harus dikembangkan. Sudah menjadi maklum bahwa di lingkungan YPIM masih ditemui adanya sekat-sekat antar bagian satu dengan bagian lainnya, antara sekelompok person dengan kelompok lainnya atau antara satu personal dengan personal lainnya. Walau pun belakangan ini fenomena tersebut semakin berkurang, tapi terkadang kecenderungan ini masih muncul. Konflik-konflik semacam ini akan sangat mengurangi kekuatan dalam menghadapi kompetitor dari luar. Tenaga kerja yang cukup banyak akan menjadi kekuatan apabila bersatu. Semua terarah untuk mencapai satu tujuan, yakni visi bersama.

Budaya teamwork ini akan tercipta jika masing-masing person menyadari bahwa semua sumber daya yang dimiliki YPIM adalah untuk mencapai satu visi bersama. Tapi, akan menjadi kontraproduktif manakala masing-masing insan di YPIM lebih berorientasi memenuhi kepentingan sendiri. Orientasi pada pemenuhan kepentingan pribadi akan mudah melahirkan konflik-konflik kepentingan. Konflik demikian akan sangat menguras energi dan melelahkan bagi sebuah management. Oleh karena itu, menguatkan nilai berorganisasi yang mementingkan teamwork harus segera disemai dan dibudayakan di semua lini jika kita menginginkan seluruh tenaga kerja yang kita miliki menjadi sebuah kekuatan di dalam menghadapi kompetisi yang ketat.

Dalam konteks seperti itulah pengertian kekeluargaan yang akan dikembangkan di YPIM. Bukan kekeluargaan yang biasa diartikan dengan bahasa berbunga-bunga tapi kosong makna yang tidak bisa diterapkan, atau diterapkan hanya-untuk menguntungkan segelintir orang tapi merugikan keseluruhan. Dengan teamwork yang baik, maka setiap person secara otomatis akan memberi pertolongan kepada lainnya.

  1. Jiwa Entrepreneur

Di dalam bahasa Indonesia, entrepreneur diartikan wirausaha. Secara etimologi wirausaha bermakna keberanian, keutamaan, atau keperkasaan dalam berusaha dengan bersandar pada kekuatan sendiri. Di sini yang perlu diperjelas adalah makna ‘kekuatan sendiri’. Makna dari ‘kekuatan sendiri’ bukanlah kegiatan usaha yang dilaksanakan secara sendirian, melainkan lebih mengacu kepada sikap mental yang tidak bergantung pada orang lain. Dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, ia lebih mengandalkan pada kekuatan sendiri daripada minta bantuan orang lain. Jadi, pengertian ‘menggunakan kekuatan sendiri’ lebih mengacu kepada sikap mental mandiri.

Sikap mental berani dan mandiri sangat diperlukan bagi organisasi yang in fighting di dalam arena kompetisi yang ketat. Agar organisasi lebih powerfull di dalam arena kompetisi, maka SDM di dalam organisasi tersebut haruslah personil- personil yang berani mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan penuh perhitungan, di samping berani mempertanggung-jawabkan segala konsekuensi dari keputusan yang diambilnya tersebut.

Mental entrepreuner adalah mental yang terlatih sehingga piawai di dalam mengambil manfaat dari peluang-peluang yang ada setiap saat. Mental demikian bertolak-belakang dengan mental pengeluh. Mental pengeluh selalu melihat sisi sulit dan negatif dari setiap peluang yang ditemukan. Mental entrepreneur inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pimpinan dan seluruh personil di Yayasan Putera Indonesia Malang.

Di era persaingan yang ketat seperti saat ini dan mendatang, kecepatan dan ketepatan dalam memanfaatkan peluang merupakan ‘resep sukses’ bagi organisasi. Organisasi apa pun yang lambat dalam memanfaatkan peluang yang ada tidak akan pernah ‘mendapat bagian apa-apa’. Jika situasi seperti itu terus berlanjut, maka dipastikan bahwa organisasi itu akan bangkrut.

 

 

 


Comments are closed.

Back to Top ↑

Menu Title