Renstra

RENCANA STRATEGIS

AKAFARMA “ PUTRA INDONESIA MALANG “

TAHUN 2009 – 2014

A. PENDAHULUAN

Keberadaan Rencana Strategis dalam suatu organisasi termasuk juga Institusi pendidikan menjadi suatu keharusan. Mengapa demikian ? Karena Rencana Strategis (Renstra) merupakan pedoman mengenai apa yang menjadi cita- cita bersama, bagaimana cara mencapainya, dan parameter apa yang digunakan untuk menentukan keberhasilan sehingga gerak langkah setiap elemen yang ada dalam organisasi akan menyatu terarah pada upaya mewujudkan cita-cita bersama tersebut.

Sejalan dengan Rencana Strategis yang telah disusun oleh Yayasan Putera Indonesia Malang maka Akafarma Putra Indonesia Malang sebagai salah satu Institusi pendidikan di bawah Yayasan Putera Indonesia Malang harus mampu menerjemahkan  tema strategis yang  diusung oleh YPI-M yaitu  “ MENCIPTAKAN MASA DEPAN YANG MANTAP MELALUI PENCIPTAAN KEUNGGULAN KOMPETITIF YAYASAN PUTRA INDONESIA MALANG “.

Adanya kecenderungan persaingan di era globalisasi, tidak terkecuali di dunia pendidikan menuntut tersedianya lembaga pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan konsumen. Berbagai upaya untuk menjawab kebutuhan konsumen dilakukan oleh hampir semua lembaga pendidikan. Untuk itu diperlukan strategi untuk menciptakan keunggulan pada setiap institusi, termasuk Akafarma PI-M. Penciptaan keungglan ini juga merupakan salah satu strategi bersaing di dalam iklim kompetisi yang ’panas’ antar berbagai instutusi pendidikan yang ada.

Untuk dapat menciptakan keunggulan kompetitif diperlukan strategi yaitu  dibutuhkan sumber daya yang unggul termasuk sumber daya manusia,  budaya organisasi juga harus unggul dan satu lagi yaitu ikon unggulan sebagai komoditas. Sebelum kita menentukan keunggulan kompetitif yang akan dijadikan ikon unggulan di Akafarma PI-M akan  dilakukan dulu analisis tentang kelemahan- kelemahan yang dihadapi oleh Akafarma dalam perkembangannya sampai saat ini.

Menurut kami yang menjadi hambatan pengembangan Akafarma adalah berkembangnya image bahwa kuliah di Akafarma lebih sulit dan tidak mudah mencari  pekerjaan. Sehingga yang menjadi titik tekan dalam menentukan keunggulan kompetitif lebih diarahkan pada desain kurikulum dengan tujuan mengemas kurikulum sehingga tidak muncul image sulit untuk kuliah di Akafarma. Hal lain yang perlu diperbaiki adalah peningkatan kualitas pembelajaran.

Keunggulan kompetitif yang akan diusung Akafarma PI-M adalah keunggulan di bidang analisa farmasi dan makanan yang difokuskan di bidang obat tradisional. Di Akafarma PI-M memiliki keunikan di bidang analisa farmasi dan makanan yang tidak dimiliki oleh institusi lain. Adanya jalinan kerjasama yang baik antara Akafarma PI-M dengan pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan  Kota  dan Kabupaten Malang, dalam membantu analisis produk.  Lembaga lain yang telah membuka kerjasama dalam analisis produk adalah YLKI Malang, Paguyuban pengusaha mie Malang, instansi pendidikan seperti UNISMA, ITN, STTP Lawang. Jika institusi yang telah bekerjasama ini mampu kita yakinkan kemampuan analisa dari Akafarma tentunya ini akan menjadi corong bagi untuk menyebarluaskan keunggulan Akafarma kepada masyarakat.

Strategi yang akan ditumbuhkembangkan di Akafarma adalah membuka dan memperluas jasa layanan konsultatif berkaitan dengan analisis produk farmasi dan makanan minuman yang tidak hanya dilakukan oleh tim yang telah dibentuk institusi, tetapi juga melibatkan mahasiswa, sehingga  kemampuan soft skill mahasiswa akan terasah.

Soft skill yang diharapkan adalah kemampuan mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat, kemampuan problem solver, menejemen emosional dalam menghadapi customer, dan kemampuan analisis, akan dapat terlatihkan.

Salah satu kekuatan yang dimiliki oleh Akafarma adalah kemampuan analisis produk farmasi yang merupakan satu- satunya di Malang. Kekuatan ini harus kita kelola untuk menjadi keunggulan kompetitif.  Produk- produk penelitian harus diarahkan bagaimana membantu masyarakat untuk memecahkan permasalahan tentang analisis produk farmasi dan makanan. Semakin banyak produk penelitian yang mampu menjawab permasalahan yang ada di masyarakat  serta memiliki nilai kemanfaatan tinggi untuk masyarakat maka masyarakat akan yakin dengan kemampuan  penerapan pengabdian masyarakat  Akafarma serta yakin akan kualitas lulusan Akafarma yang handal. Jika kepercayaan masyarakat ini terbangun maka kami yakin disitulah kejayaan Akafarma akan terwujud.

Untuk membangun keunggulan kompetitif tersebut diperlukan Sumber daya  yang unggul yang meliputi sumber daya fisik, sumber daya manajemen dan sumber daya manusia. Bagaimana mengelola sumber daya  untuk memberikan daya dukungnya terhadap penciptaan keunggulan kompetitif menjadi kata kuncinya. Sumber daya yang dimiliki institusi akan menjadi kekuatan bagi institusi untuk memberikan keunggulan kompetitif yang menjadi karakteristik  institusi dan menjadi kelemahan jika tidak mampu mendorong keunggulan kompetitif tersebut.

Berbicara tentang sumber daya terutama sumber daya manusia Akafarma  PI-M masih banyak dihadapkan pada permasalahan terkait dengan kompetensi dan komitmen SDM. Masalah kompetensi SDM berkaitan dengan kompetensi SDM yang belum mengarah pada spesialisasi karena sering keluar masuknya karyawan, terutama fasilitator. Kondisi ini mengharuskan “ pembenahan pada system rekruitmen karyawan “ sehingga institusi tidak dipandang sebelah mata oleh karyawan.  Selain itu kurangnya budaya belajar dan penelitian serta kurangnya memperoleh kesempatan untuk pelatihan juga menjadi penyebab rendahnya kompetensi SDM.

Hal lain yang menjadi masalah adalah komitmen karyawan. Komitmen untuk melaksanakan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat sendiri saja belum nampak yang berkaitan dengan layanan, disiplin, pengembangan nilai- nilai.  Kendala ini menyebabkan tuntutan ke arah profesionalisme  semakin tidak dapat terwujud. Kualifikasi professional yang diharapkan untuk SDM di Akafarma adalah  intregitas, customer focus, antusiasme, influence, adaptability to change, action. Melihat kondisi di atas maka yang harus dipahami seluruh karyawan adalah mengubah pola fikir lama menjadi pola fikir professional, terutama yang menyangkut kompetensi dan komitmen. Adapun dikatakan professional minimal memiliki kompetensi berikut : mampu memenuhi tuntutan pekerjaan, dapat mengantisipasi hal- hal yang berkembang di luar situasi biasa, pekerjaan yang dilakukan memberikan perasaan positif pada individu yang bersangkutan, “go beyond duty”. Salah satu indicator suatu institusi berjalan secara professional adalah mampu melayani kebutuhan Customer secara optimal.

Faktor kedua yang harus dipertimbangkan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif adalah sumber daya fisik. Sebagai contoh adalah ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran, sarana pengembangan kegiatan kemahasiswaan, ketersediaan sarana belajar di perpustakaan, kurang optimalnya pemanfaatan fasilitas ICT.  Sumber daya fisik yang ada yang harus dikelola secara optimal sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermakna dalam perwujudan keunggulan kompetitif.

Faktor ketiga yang harus menjadi focus pengembangan adalah sumberdaya menejemen. Pola manajemen BSC harus mampu mewarnai dan terimplementasikan di semua elemen yang ada di institusi sehingga dengan pengelolaan ketiga sumber daya yang dimiliki institusi merupakan suatu kekuatan  untuk dapat mewujudkan tema strategis yang diusung.

Berdasarkan UU Sisdiknas, bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Ini artinya, masyarakat memiliki hak untuk mendirikan dan mengelola peguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kebijakan UU BHP, maka  kran dan peluang ini dimafaatkan betul oleh masyarakat sehingga perguruan tinggi swasta menjamur di mana-mana. Persoalannya, seiring dengan kebebasan perguruan tinggi negeri membuka berbagai jurusan dan program studi, keberadaan perguruan tinggi swasta semakin terancam. Tak sedikit, perguruan tinggi swasta yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing memperebutkan mahasiswa.

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakberdayaan perguruan tinggi swasta ini, diantaranya strategi pengembangan Perguruan Tinggi Swasta yang kurang baik. Oleh karena itu, upaya mengoptimalkan mutu layanan Perguruan Tinggi Swasta sesuai dengan tuntutan internal dan eskternal perlu dilakukan. Beberapa contoh tuntutan internal adalah merubah pola pendidikan konvensional dan berbenah diri dalam manajerial pengelolaan pendidikan. Beberapa contoh tuntutan eksternal adalah menghasilkan lulusan yang siap pakai sesuai tuntutan stakeholder dan karya penelitian serta pengabdian masyarakat yang bermanfaat.

Paradigma baru bagi pengelola pendidikan Tinggi haruslah menekankan dalam beberapa hal : 1. Quality, yaitu mengutamakan kebutuhan mahasiswa untuk pengembangan kapabilitas intelektual, 2. Autonomy, menyiapkan proses pendidikan yang berkualitas dan efisien untuk mendorong inovasi dan keunggulan, 3. Ilmu Pengetahuan (Sains dan seni), yaitu untuk menerangkan gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. 4.Teknologi, adalah penerapan berbagai disiplin SAINS, menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Praktek-praktek yang terkait dengan peningkatan mutu pendidikan tinggi, yaitu akriditasi, ranking akademik, pemberian lisensi/ sertifikasi, uji luaran (outcomes), review terhadap program, tracer studies, keikutsertaa dalam hibah yang bersifat kompetitif dan total quality management atau TQM (Filosofi peningkatan secara terarah dan berkelanjutan melalui inovasi, perubahan budaya dan pendelegasian dukungan dan kewenangan kepada seluruh lapisan manajemen). Sedangkan Peningkatan Mutu Tridarma Perguruan Tinggi, meliputi 1. Dalam pendidikan : mahasiswa, proses pembelajaran, lulusan. 2. Dalam penelitian : publikasi, sitasi, paten. 3. Dalam pengabdian masyarakat : proyek kerjasama, produk/ kebijakan. Prasyarat tercapainya upaya penjaminan mutu di PT : adanya budaya akademik (academic cultur) dan suasana akademik (academic atmospher) yang kondusif, adanya komitmen institusi melalui visi, misi, peraturan dan sistem di
dalam perguruan tinggi yang memungkinkan terselenggaranya upaya penjaminan mutu dan adanya dukungan sumber daya manusia (dosen, staf non dosen, mahasiswa) yang mempunyai komitmen tinggi terhadap peningkatan mutu.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa selain sumber daya , budaya organisasi sangat berperan dalam mewujudkan tema strategis YPI-M. Budaya organisasi yang ada di institusi banyak yang justru kontraproduktif dengan semangat memajukan institusi. Seperti, kecenderungan melakukan penolakan terhadap hal baru, kebiasaan bergunjing, saling iri, tidak taat terhadap kesepakatan bersama , merasa diri lebih unggul dari rekan kerjanya (arogan), loyalitas kurang, pesimistis, kecenderungan bermusuhan dengan rekan kerja. Peran pimpinan sebagai mentor sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan nilai- nilai budaya organisasi ini sehingga dapat tumbuh sehat dan dapat mendukung pencapaian tema strategis yang telah ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas, untuk menyusun kebijakan strategisnya,  Akafarma PI-M mengusung  tema ” “MENCIPTAKAN MASA DEPAN YANG MANTAP MELALUI PENCIPTAAN KEUNGGULAN LAYANAN PENDIDI`KAN DENGAN FOKUS PADA ANALISIS FARMASI DAN PENGEMBANGAN OBAT TRADISIONAL”

B. NILAI- NILAI PENDUKUNG

Nilai- nilai yang akan dikembangkan di institusi adalah sebagai berikut :

  • Jiwa enterpreunership
  • Team work
  • Problem solver
  • Beyond duty.
  • Musyawarah untuk mencapai kata mufakat
  • Pengembangan nilai kedisiplinan.
  • Pengembangan nilai kejujuran
  • Pengembangkan nilai- nilai kesopanan ( Etika dan moral )
  • Pengembangan nilai keteladanan
  • Pengembangan nilai bangga dan cinta almamater
  • Pengembangan budaya belajar sepanjang hayat.
  • Nilai spiritual

C. TREND WATCHING

Misi, visi atau tema strategi yang telah ditetapkan dapat diwujudkan dengan rancangan- rancangan strategi yang jitu. Salah satu factor yang harus diperhitungkan dalam menyusun strategi adalah memprediksi kecenderungan- kecenderungan apa yang akan terjadi di masa yang akan dating. Karena, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang  akan sangat mempengaruhi keberhasilan dari implementasi strategi yang telah dibuat. Ini salah satu faktor krusial yang akan menentukan keberhasilan pencapaian dari cita- cita bersama yang tertuang dalam keseluruhan renstra ini. Dalam artian, strategi- strategi  untuk menjalankan program- program rutin maupun strategi- strategi baru sebagai dasar untuk melakukan pengembangan institusional harus didasarkan pada asumsi- asumsi tentang kecenderungan – kecenderungan yang akan terjadi.

Dengan mengacu pada trend setter- trend setter yang telah ditetapkan oleh YPI-M maka Akafarma akan menjadikan trend setter tersebut dalam penentuan kebijakan- kebijakan stretegis Akafarma PI-M. Trend setter itu adalah sebagai berikut :

1. GLOBALISASI

Globalisasi adalah wujud baru dari penjajahan oleh bangsa-bangsa maju kepada bangsa-bangsa dunia ketiga. Intervensi negara-negara maju ke dalam dunia ketiga hampir merasuk di segala bidang: ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Karena massifnya intervensi ini menyebabkan pemerintah negeri-negeri ‘terjajah’ nyaris tidak memiliki keberdayaan untuk menentukan nasib sendiri. Akibatnya, penduduk negeri dari bangsa-bangsa ‘terjajah’ ini mengalami kesengsaraan yang berkepanjangan yang sulit dimengerti kapan akan berakhir proses penyadaran untuk menjadi bangsa yang mandiri, juga dengan mengaktualkan potensi-potensi lokal. Potensi yang dimaksud di sini bisa berupa sumber daya alam maupun karya-karya budaya lokal.

Bangsa kita terkenal dengan kekayaan alamnya,  yang sebagian besar telah tergadaikan kepada negeri-negeri maju. Namun, masih ada potensi yang masih bisa dikembangkan, yakni pertanian dan tanaman obat tradisional. Jika dikelola dengan benar, sektor ini akan menjadi kekuatan nasional yang luar biasa.

Untuk mengembangkan potensi masyarakat Indonesia di bidang kimia dan farmasi, Akafarma PI-M harus mengambil peran yang cukup signifikan untuk mengembangkan kimia bahan alam.  Pendapat yang dikemukakan oleh Prof. Syamsul bahwa pengakuan dunia bahwa negara Indonesia merupakan negara terbesar kedua setelah Brasil dalam hal keanekaragaman hayati terutama jenis tumbuh-tumbuhan, sebab Indonesia menurut Jeffrey (1992) merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis tumbuhan yang diperkirakan mencapai sekitar 25.000 jenis atau lebih dari 10 % dari jenis flora dunia. Selain itu jumlah jenis lumut dan gangang yang berjumlah ± 35.000 jenis dimana 40 % diantaranya merupakan jenis yang endemik atau hanya terdapat di Indonesia saja. Dengan tingginya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia itu yang dilihat dari keanekaragaman tumbuhan yang ada, memungkinkan untuk ditemukannya beraneka jenis senyawa kimia, walaupun beberapa senyawa kimia itu telah banyak ditemukan tetapi berdasarkan sejarah penemuan dan pengembangan telah membuktikan bahwa peluang untuk terjadinya temuan-temuan baru adalah sangat besar. “Sebab semakin tinggi tingkat evolusi dari suatu tanaman, maka keanekaragaman molekul dari tumbuhan tersebut juga beragam” Berdasarkan hal itu, sebagai negara yang termasuk negara mega biodiversity maka riset kimia bahan alam telah menjadi peluang penelitian Indonesia.  Sedangkan di bidang pertanian Indonesia di jaman Orde Baru dikenal merupakan negara yang berswasembada beras, kemudian turun dan bangkit lagi pada era kepimpinan SBY. Namun naik turunnya produksi pertanian ini sebenarnya diakibatkan oleh ketergantungan penggunaan pupuk dari luar. Saat ini mulai berkembang trend image kembali ke alam “back to nature”. Beberapa contoh pengembangan obat tradisional hasil dari riset kimia bahan alam dan penggunaan pupuk organik (padat/ cair) sebagai bahan pengembangan beras organik.  Artinya, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat harus diberi fokus kepada kedua sektor tersebut. Pengambilan peran di sektor pertanian dan tanaman obat tradisional akan semakin mengokohkan eksistensi Akafarma PI-M, yang merupakan institusi pendidikan yang mampu mengembangkan produk-produk “back to nature” hasil riset kimia bahan alam, di tengah masyarakat. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan pengakuan masyarakat luas dan dunia industri/usaha terhadap Akafarma PI-M beserta lulusannya.

Di samping mengambil peran pada ke dua sektor itu, sektor industri kecil juga merupakan ‘senjata’ untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Jumlah masyarakat yang terlibat di sektor industri kecil cukup besar, terutama di kota Malang. Seperti yang telah diambil oleh YPI-M adalah penyebaran ‘Virus enterpreuner’ dan pelatihan-pelatihan industri kecil, baik di bidang kimia maupun farmasi, kepada masyarakat luas dan peserta didik. Pengambilan peran yang signifikan di sektor ini juga dapat meningkatkan pengakuan masyarakat terhadap Akafarma PI-M.

2. ICT

Saat ini, hampir seluruh sisi kehidupan umat manusia nyaris tidak bisa terlepas dari pemanfaatan ICT. Kekuatan fungsional ICT akan semakin kokoh di masa depan. ‘Keperkasaan’ ICT ini karena ia telah banyak memberi alternatif kemudahan bagi hampir setiap pekerjaan dan asistensinya dalam membantu mendapatkan segala informasi.

3.   Kebijakan Pemerintah Dalam Pendidikan

Akibat UU Otoda akan mendorong tingginya kebutuhan SDM yang terampil untuk mengelola potensi-potensi berbagai daerah sesuai dengan keadaan alamnya masing-masing. Kecenderungan ini harus menyadarkan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik, baik untuk life skill maupun softskill-nya, supaya mampu mengisi kebutuhan-kebutuhan tersebut.     Kecakapan hidup (life skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja, apalagi sekedar keterampilan manual. Orang yang sedang menempuh pendidikan juga memerlukan kecakapan hidup, karena mereka tentu juga memiliki permasalahan yang harus dipecahkan. Bukankah dalam hidup, dimanapun dan kapanpun orang selalu menemui masalah yang harus dipecahkan.

4. Kebangkitan Pasar Perempuan

Untuk mengeksplorasi ‘Mega Pasar’ kebangkitan pasar perempuan ini, Akafarma bekerjasama dengan institusi pendidikan dan biro lain di lingkungan YPI-M harus bisa memanfaatkan moment kebangkitan ini. Pertama-tama harus diidentifikasi apa kecenderungan-kecenderungan baru yang terjadi pada kaum hawa; kebutuhan apa yang dominan dirasakan mereka; apa gambaran masa depan yang mereka inginkan; model pembelajaran yang bagaimana yang lebih mereka sukai; dan lain-lain. Berkaitan dengan moment ini Akafarma PI-M berusaha mengembangkan layanan pendidikan yang berfokus pada analis farmasi dan makanan di bidang obat tradisional, seperti contohnya mengembangkan penelitian produk kimia bahan alam   (Aroma terapi, bahan penunjang SPA, kosmetik dan lain-lain) dan ditunjang  manajemen pemasarannya. Selain itu mengembangkan produk jadi yang dapat dikembangkan dalam obyek pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk mendorong pemberdayaan pasar perempuan.  Disisi lain, faktor penunjang kebangkitan pasar perempuan ini merupakan salah satu trendwatching    Akafarma PI-M adalah adanya kebijakan pemerintah  tentang Pendidikan Pemberdayaan Perempuan. Hal ini yang merupakan dorongan peran Akafarma PI-M untuk mendukung dalam pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Formal dan Informal dan instansi terkait untuk Pemberdayaan Perempuan.

Tema strategi dengan fokus pada analisis memiliki relevansi dengan karakteristik perempuan.

5. Pola Baru Perancangan Produk

“Konsumen adalah Raja” menjadikan berbagai upaya untuk menciptakan customer satisfaction, customer retention dan customer acqusition telah banyak dilakukan.  Untuk menyikapi hal ini Akafarma PI-M  harus mempertahankan dan mengembangkan pasar yang ada, dengan melibatkan ‘suara’ konsumen dan calon konsumen dalam merancang inovasi yang baru.   Sementara ini Akafarma PI-M mempunyai unggulan di bidang analisis, namun hanya dirasakan oleh pengguna lulusan. Untuk menerapkan customer service di masa mendatang harus dirancang layanan pendidikan yang mampu memberikan kepuasan customer (mahasiswa) sehingga image negative dapat tereduksi.  Fokus unggulan Akafarma PI-M adalah kompetensi di bidang obat tradisional

D. KEBIJAKAN STRATEGIS

Untuk menyusun kebijakan-kebijakan strategisnya,  Akafarma    PI-M mengusung tema “MENCIPTAKAN MASA DEPAN YANG MANTAP MELALUI PENCIPTAAN KEUNGGULAN LAYANAN PENDIDIKAN DENGAN FOKUS PADA ANALISIS FARMASI DAN PENGEMBANGAN OBAT TRADISIONAL” Yang harus dipahami  dari isi tema tersebut adalah menciptakan masa depan Akafarma PI-M yang mantap.  Oleh karena itu semua personil Akafarma PI-M bekerjasama dengan institusi dan biro di lingkungan YPI-M harus meningkatkan kinerjanya untuk melayani peserta didik dan orang tuanya serta selalu bekerjasama dengan dunia industri dan dunia usaha untuk mengembangkan jasa layanan pendidikan ini agar meraih masa depan yang mantap bagi semua sivitas akademi Akafarma PI-M dan di lingkungan YPI-M.  Untuk itu diperlukan berbagai upaya agar masa depan Akafarma PI-M cukup mantap sehingga bisa diandalkan oleh sivitas akademi Akafarma untuk saat ini dan masa depan. Sehingga  tanggung-jawab menciptakan masa depan   Akafarma PI-M berada di pundak sivitas akademi Akafarma PI-M. Kesadaran demikian harus dibangun disetiap diri masing-masing terlebih dahulu.

Kemudian, agar sebuah organisasi, sebagaimana Akafarma PI-M, memiliki masa depan yang mantap, maka ia harus memiliki kemampuan untuk memasuki era persaingan yang sangat kompetitif yang merupakan karakter persaingan di masa kini dan akan datang. Di arena persaingan seperti itu, Akafarma PI-M harus memiliki nilai-nilai yang bisa menjadi unggulannya. Tanpa memiliki keunggulan akan sangat berat bagi Akafarma PI-M untuk bisa terus mempertahankan eksistensinya.

Potensi-potensi apa yang perlu digali untuk dieksplorasi supaya menjadi nilai unggul bagi Akafarma PI-M di masa akan datang adalah tugas semua pihak yang berada di bawah Akafarma PI-M. Sesuai dengan trendwatching dan analisis SWOT yang telah dilakukan, Grand strategi Akafarma PI-M   sebagai berikut :

  • Peningkatan Pendapatan
  • Peningkatan Kepuasan Mahasiswa (Customer Satisfication & Customer Retention
  • Penguatan Citra  Akafarma kepada masyarakat
  • Peningkatan Manajemen berbasis BSC
  • Peningkatan Produktivitas Kinerja Organisasi
  • Peningkatan Layanan Akademik
  • Peningkatan Layanan penunjang akademik (Administrasi, Keuangan, Perpustakaan, Sarana Prasarana, ICT dan Bahasa)
  • Peningkatan Layanan bidang Kemahasiswaan
  • Peningkatan Hubungan baik dengan mahasiswa dan orang tua
  • Peningkatan Hubungan kerjasama dengan User
  • Peningkatan kegiatan PROMOSI
  • Peningkatan Kompetensi Fasilitator
  • Peningkatan Kompetensi Adminstrasi
  • Peningkatan Kompetensi Manajerial
  • Meningkatkan Budaya Organisasi sesuai nilai pendukung institusi

SCORE CARD

Perspektif Strategi Tujuan Strategi
1.Financial 1.1 Peningkatan Pendapatan 1.1.1 Memaksimalkan  pemenuhan  daya tampung
1.1.2 Meningkatkan  jumlah daya tampung
1.2 Efisiensi biaya operasional 1.2.1 Mengurangi pemborosan  pada biaya operasional  seperti administrasi, SPPD, biaya bahan praktek
1.2.2 Meningkatkan produktivitas kinerja organisasi
2.Customer 2.1 Memperkokoh penguatan Positioning Akafarma PI-M,yaitu : “Spirit to achieve your future” 2.1.1 Menjadikan mahasiswa  Akafarma   memiliki tanggung jawab terhadap  masa depannya sendiri
2.1.2 Memfasilitasi mahasiswa Akafarma menjadi lulusan yang memiliki humanistic skill dan professional skill
2.1.3 Memberikan mahasiswa kemampuan entrepreneur
2.1.4 Menjadikan mahasiswa Akafarma sebagai ‘manusia pembelajar’
2.1.5 Menjadikan kampus Akafarma yang nyaman
2.1.6 Menjadikan Akafarma yang memberikan jaminan kerja bagi lulusannya
2.1.7 Memberikan kemudahan akses komunikasi antara Akafarma PIM dengan alumni
2.1.8 Mengembangkan hubungan baik Akafarma PI-M dengan calon mahasiswa
2.1.9 Memberikan layanan akademis dan non akademis berbasis ICT yang up to date
2.1.10 Memberikan kemudahan akses informasi kepada ortu untuk mengetahui perkembangan PBM
2.1.11 Meningkatkan brand equity
2.1.12 Market share
3.Process Bisnis Internal (PBI) 3.1 Pemaksimalan daya tampung 3.1.1 Meningkatkan  jumlah mahasiswa regular
3.1.2 Membuka sistim double shift
3.2   Pengurangan pemborosan 3.2.1 Mengembangkan  sistem penghematan operasional Akafarma
3.3  Peningkatan produktivitas  kinerja organisasi 3.3.1 Mengembangkan job des dalam organisasi
3.3.2 Meningkatkan koordinasi antar personal organisasi Akafarma PI-M
3.4  Implementasi pimpinan sbg mentor 3.4.1 Memberlakukan penilaian kinerja personal
3.4.2 Membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan manajerial dengan model leadership yang dikembangkan PIM
3.4.3 Melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi pada setiap kegiatan
3.4.4 Melakukan evaluasi terhadap efektifitas kebijakan intern Akafarma PI-M
3.5   Pengembangan Akafarma sebagai institusi yang membangun tanggung jawab mahasiswa terhadap masa depannya 3.5.1 Mengembangkan desain kurikulum berbasis kompetensi
3.5.2 Mengembangkan metode pembelajaran berorentasi pada epistemologi
3.5.3 Meningkatkan kemampuan non akademis (komunikasi, sosial dan budaya) melalui kegiatan kemahasiswaan
3.5.4 Meningkatkan kesesuaian mata kuliah praktek dengan mata kuliah teori.
3.5.5 Meningkatkan fasilitas kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa yang mendorong tanggung jawab pribadi
3.6  Pengembangan mahasiswa Akafarma memiliki  humanistic skill dan professional skill 3.6.1 Internalisasi nilai-nilai humanis dan professional melalui PBM
3.6.2 Internalisasi nilai-nilai humanis dan profesional dalam kegiatan kemahasiswaan
3.6.3 Meningkatkan peranan Dosen Wali dalam hal pembinaan di bidang akademis
3.6.4 Mengembangkan layanan Bimbingan Konseling pada mahasiswa AKAFARMA
3.6.5 Mengembangkan Konsultasi KBM Offline
3.6.6 Menambah jumlah dosen dan instruktur yang berkualitas sesuai bidang dan jumlah mahasiswa
3.6.7 Meningkatkan   bahan Pustaka    (Jurnal & Textbook) yang sesuai dengan mata kuliah   dan umum  (humanis & professional) yang up to date (off/ on line)
3.6.8 Meningkatkan layanan PKL agar sesuai keinginan lahan PKL
3.6.9 Meningkatkan standar jabatan fungsional
3.7   Memberikan mahasiswa kemampuan enterpreneur 3.7.1 Membuka kelas kewirausahaan
3.7.2 Menjalin kerjasama dengan dunia usaha untuk meningkatkan enterprenuer mahasiswa
3.8   Pengembangan Institusi Akafarma menjadikan mahasiswa  sebagai manusia pembelajar (long life education) 3.8.1 Mendorong mahasiswa mampu memanfaatkan sumber sumber belajar yang ada di sekitarnya untuk kegiatan PKM dan KTI (skala Nasional dan Lokal)
3.8.2 Melaksanakan kegiatan seminar, kuliah tamu dan lokakarya
3.8.3 Mengembangkan dosen yang professional
3.9  Menjadikan kampus sebagai tempat belajar yang  nyaman 3.9.1 Mengembangkan penerapan sistem manajemen mutu dalam kegiatan Tri Dharma PT
3.9.2 Melaksanakan akreditasi BAN PT
3.9.3 Meningkatkan  Ruang Kelas Multimedia
3.9.4 Meningkatkan  Sarana dan prasarana Laboratorium sesuai Sistim Penjaminan Mutu
3.9.5 Mengoptimalkan penggunaan sarana kuliah dan praktek
3.9.6 Mengembangkan sarana administrasi dan kemahasiswaan secara on line
3.10  Menjadikan lulusan AKAFARMA memperoleh jaminan pekerjaan 3.10.1 Meningkatkan peran Bursa kerja
3.10.2 Meningkatkan MOU kerjasama perekrutan
3.11  Pemberian kemudahan akses komunikasi antara Akafarma PIM dengan alumni 3.11.1 Mengembangkan komunitas online untuk alumni
3.11.2 Membentuk Ikatan Alumni Akafarma PIM
3.12  Peningkatan hubungan baik Akafarma dengan calon mahasiswa 3.12.1 Mengembangkan Program Promosi Akafarma PI-M melalui  program pendampingan penulisan Karya Ilmiah
3.13  Pemberian layanan akademis dan non akademis  berbasis ICT yang up to date 3.13.1 Melaksanakan pembelajaran e-learning
3.13.2 Mengembangkan Konsultasi PBM Online
3.14  Memberikan kemudahan akses informasi kepada ortu untuk mengetahui perkembangan Mhs 3.14.1 Memanfaatkan fasilitas IT untuk menunjang kelancaran akses informasi bagi orang tua mahasiswa
3.15  Meningkatkan brand equite 3.15.1 Mempublikasikan artikel ilmiah, penelitian, pengabdian masyarakat, dosen tamu dan seminar bagi mahasiswa dan dosen
3.16  Market share 3.16.1 Memberi kemudahan akses informasi Akafarma PIM  ke calon mahasiswa secara online
3.16.2 Mengedukasi statement positioning Akafarma ke masyarakat
4.LG 4.1  Mengembangkan desain kurikulum berbasis kompetensi 4.1.1 Meningkatkan kompetensi dosen dan instruktur tentang filsafat manusia.
4.1.2 Internalisasi nilai – nilai yang akan di bawa ke dalam PBM
4.2  Mengembangkan metode pembelajaran berorentasi pada  epistemologi 4.2.1 Meningkatkan kompetensi dosen dan instruktur tentang metode konstruktivistik
4.2.2 Meningkatkan pemahaman dosen dan instruktur tentang epistemologi
4.3  Internalisasi nilai-nilai humanis dan professional 4.3.1 Meningkatkan pemahaman nilai humanis dan profesional yang dibutuhkan oleh DU DI
4.4  Meningkatkan peranan dosen wali 4.4.1 Meningkatkan kompetensi pembimbingan mahasiswa
4.5   Mengembangkan Konsultasi KBM Offline/ Online 4.5.1 Meningkatkan kompetensi dosen dan instruktur dalam PBM On/Off line
4.6 Mendorong mahasiswa mampu untuk   kegiatan PKM dan KTI 4.6.1 Meningkatkan pemahaman tentang strategi penulisan PKM dan KTI
4.7   Membuka kelas kewirausahaan 4.7.1 Meningkatkan kompetensi Dosen Kewirausahaan
4.8   Mengembangkan penerapan sistem manajemen mutu  Tri Dharma PT dan persiapan Akreditasi 4.8.1 Meningkatkan kompetensi staf Akafarma dalam penerapan SPM
4.9    Mengembangkan Program Promosi Akafarma PI-M melalui  program pendampingan penulisan Karya Ilmiah 4.9.1 Meningkatkan pemahaman para dosen tentang promosi  melalui  program pendampingan penulisan Karya Ilmiah
4.10  Melaksanakan pembelajaran e-learning 4.10.1 Meningkatkan kompetensi Dosen dalam pembelajaran e-learning

Back to Top ↑

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better